HOT69seks,com - Waktu SMP kelas dua, di rumah ada pembantu, namanya Bi Tati. Aku suka melihat Bi Tati makannya banyak. Engak heran badannya juga gemuk. Nah, kebetulan kamarku di lantai dua, dan di bawahnya pas kamar mandi Bi Tati.
Lantai kamarku itu cuma pakai multiplex tebal yang di lapisi karpet plastik yang agak tebal juga. Di antara lantai kamarku dengan kamar mandi Bi Tati engak ada pembatas atau eternitnya.
Aku cari akal bagaimana carannya bisa mengintip Bi Tati kalau lagi mandi dari lantai kamarku. Aku pikir, kalau ada lubang dari kamarku pasti bisa langsung kelihatan isi kamar mandinya Bi Tati.
Lalu aku cari sela-sela lantai do kolong ranjangku agar tidak mudah di temukan orang. Sedikit demi sedikit kulubangi lantai dengan obeng kecil. Jadilah lubang sebesar satu centimeter tapi cukup besar untuk melihat seisi kamar mandi pembantu.
Nah, sejak saat itu aku rajin mengintip Bi Tati mandi dari atas. Bi Tati ini orangnya baik, kulitnya agak putih, bersih, dan toketnya gede banget. Kadang diya suka mainnin toketnya kalau lagi mandi. Aku sering coli juga kalau lagi pas mengintip Bi Tati mandi.
Suatu saat, aku di kasih dua butir pil tidur sama teman. Pil itu aku umpetin di atas lemari, di sela tumpukan barang-barangku. Nah, aku percaya kesempatan itu datang tidak akan dua kali. Suatu ketika, Berbulan-bulan kemudian, keluargaku pada liburan ke rumah nenek di Jawa Barat. Aku di tinggal berdua sajah dengan Bi Tati karena aku bilang malas pergi.
Malamnya sehabis makan, Aku tumbuk dua butir pil itu di kamarku hinga menjadi halus sekali dan aku memasukannya kedalam lipatan kertas, lalu aku kantongi di celana pendekku.
Tak lama aku panggil Bi Tati agar ke atas menemaniku menonton TV di ruangan TV yang ada di depan kamarku di lantai dua. Di ruang TV ini engaka ada kursi sama sekali, cuma pakai permadani lama sajah sebagai alasnya dan beberapa bantal besar.
AGEN TOGEL
Sebentar kita nonton, aku bilan ke Bi Tati mau turun ke dapur mengambil minum. Aku lalu membuat dua gelas sirup. Yang satu kububuhi tumbukan pil tidur tadi. Sempat lama mengaduknya karena serbuk itu masih ada yang mengambang, tapi lama-lama hancur juga. Aku bawa dua gelas sirup ke atas. Sirup yang sudah di bubuhi serbuk pil tidur ku kasihkan kepada Bi Tati. Bi Tati tadinya menolak, tapi aku bilang "Tidak apa-apa, Bi. Sekalian tadi bikinya."
Sambil menonton TV, aku ngobrol ngalor ngidul dengan Bi Tati. Bi Tati ini seorang janda, Umurnya sekitar 30 tahunan. Yang pernah aku dengan dari cerita ibuku, Bi Tati di cerai suaminya karena tidak bisa punya anak. Munkin mandul.
Posisi kita menonton duduk di lantai berdua, tapi engak lama, Bi Tati merubah posisinya dari duduk, menjadi tiduran sambil kepalanya di topang bantal besar.
Aku terus ajak diya ngobrol sambil nonton TV. Lama-lama, kok aku kaya ngomong sendiri ? Engak taunya Bi Tati sudah tertidur. Aku diam sambil cari akal, ada kali setengah jam sambil melirik posisi Bi Tati yang tertidur melingkar seperti pistol Bi Tati pakai daster hijau selutut.
Aku panggil Bi Tati, "Bi... Bi Tati." Tapi tak menjawab. Lalu aku peggang tanggannya sambil aku guncang-guncang dan panggil-panggil namanya perlahan, "Bi... Bi Tati." Oh, ternayata dia sudah pulas. Aku cek lagi dengan menguncang-guncangkan pahannya.
"Bi... Bi Tati." Dia tetap diam, napasnya sajah yang turun naik teratur. Ternayata Bi Tati sudah pulas sekali. Jantungku berdekup keras.
Dengan terburu-buru aku turun ke bawah untuk mengunci pagar halaman, pintu depan, dan pintu dapur. Gorden tak lupa kurapatkan. Breeett !
Lalu aku matikan lampu ruang tamu dan lampu dapur. Habis itu aku naik lagi ke atas. Hmmm, Bi Tati masih tertidur dengan posisi yang tadi. Lalu aku kunci pintu ruangan TV yang mengarah keluar. Gordenn jendela aku rapatkan juga. Ahhhh, Amaaan !
Perlahan aku dekati Bi Tati, Kuguncang-guncangkan lagi kakinya. Dia tetap tertidur. Lalu aku rubah posisi Bi Tati yang tadinya melingkar, jadi terlentang. Bantal besar yang menganjal kepalanya perlahan-lahan kugeser sehinga terlepas dari kepalanya.
Dadaku terasa sakit karena jantungku berdegup kencang, napasku memburu. Lalu kuangkat perlahan dasternya dari bawah sampai ke atas perut sambil melihat mukanya, hmmm masih pulas. Sekarang terlihat paha Bi Tati yang bulat, besar, agak putih, dan bersih nggak ada bekas lukanya. Perutnya gemuk berisi. Gundukan CDnya warna krem. Menyembul di atas perutnya toket besarnya yang ditutupi BH warna krem.
Tapi aku nggak terlalu penasaran dengan toketnya karena sudah sering melihatnya.
Aku lalu coba merunduk. Kuciumi mekinya yang masih pakai CD. Ah, nggak ada bau apa-apa. Lalu ku elus-elus pahanya serta mekinya perlahan-lahan sambil sesekali melihat muka Bi Tati. Ah, masih pulas, pikirku. Malah sekarang sudah mendengkur halus.
Lalu kupegang gundukan mekinya. Hmm, tebal bangeet. Sebentar, kucoba korek sedikit mekinya lewat sela CD. Hmm, aku ingat, bulu jembinya sedikit dan jarang-jarang tumbuhnya. Keringat dingin mulai keluar dan aku semakin gemeteran. Lama aku begitu, korek-korek meki sambil elus-elus mekinya Bi Tati dari luar CD, sambil sesekali kulirik mukanya, khawatir dia terbangun.
Lama-lama aku makin penasaran, kucoba buka CDnya. Pelan-pelan kuturunkan CDnya dari bawah pantat sambil terus melihat muka Bi Tati. Uh, berat banget badannya. Kugeser CDnya sedikit demi sedikit lewat bawah pantatnya. Keringat dingin mengucur di badanku, padahal angin malam dari luar menerobos masuk dari atas lubang pintu. Tongkolku yang terbungkus CD dan celana pendek sudah tegang banget sejak tadi.
Berhasil! CD Bi Tati sudah lewat dari pantatnya yang besar. Tanggung, kuloloskan saja sekalian dari kakinya. Sekarang Bi Tati tidak memakai CD. Telentang. Bulu jembinya jarang, mekinya tembem dan rapat. Tongkolku jadi keras banget. Aku beringsut ke bawah kaki Bi Tati, lalu kurenggangkan kakinya. Wuaah! Ini pengalamanku yang kuingat terus sampai sekarang. Pertama kali aku bisa melihat meki cewe dengan bebas, ya saat itu. Hmm, indah sekali.
Lalu kurenggangkan lagi kaki Bi Tati lebar-lebar sampai badanku dapat duduk bebas di antara selangkangan kakinya. Bi Tati masih mendengkur. Aku mulai merunduk di atas meki Bi Tati. Kubuka mekinya yang tembem dan rapat itu dengan kedua tanganku, perlahan. Hmm, kuciumi mekinya. Wanginya aneh, tapi justru wangi ini yang nggak akan kulupakan, gimanaa gitu.
Aku ingat banget, lubang luar mekinya sempit, cuma segaris saja keliatannya dari luar.Pas kusibak, warna pinggir lubangnya merah tua dan dindingnya tebal, lembut, dan lubang dalamnya merah muda serta berkilat. Napasku mulai terengah-engah.
Kucoba-coba cari yang mana sih, yang disebut klitoris itu? Aku buka-buka perlahan mekinya, tapi sepertinya saat itu aku tetap nggak tau deh, yang mana atau seperti apa bentuknya klitoris (sekarang sih udah tau, hehe..). Aku semakin penasaran. Lubang meki Bi Tati semakin kuperlebar. Lama kuperhatikan. Kini terlihat dua belah bibir kecil dengan lubang kecil ditengahnya. Bibir kecil dan lubang kecil itu berwarna merah jambu dan agak basah. Tongkolku semakin keras. Jantungku berdetak keras.
Dengan tangan kiri, kutahan bibir meki Bi Tati, lalu kumasukkan jari telunjuk tangan kananku ke dalam lubang kecil itu. Aah, terasa lembut sekali daging merah jambu didalamnya. Lalu kuangkat jariku, kuciumi baunya. Ooh, begini toh, bau meki, pikirku cepat.
Lalu kumasukkan lagi jari tengahku ke dalamnya, kugosok-gosokkan perlahan jariku di dinding-dinding dalam meki Bi Tati. Uuh, terasa lembut sekali daging basah di dalamnya. Lama aku begitu sambil sesekali mengelus-elus bibir luarnya dan menjilat-jilatnya dengan lidahku. Semakin penasaran, kumasukkan dua jariku ke dalam lubang kecil meki Bi Tati. Ah, ternyata muat, lalu kugosok-gosokkan lagi bergantian dengan masuknya ujung lidahku ke dalam lubang kecil itu. Agak asin-asin gurih gitu, rasanya. Tongkolku semakin keras dan terasa menyakitkan dibungkus CD dan celana pendek.
Ah, kucoba masukkan tongkolku ke dalam mekinya Bi Tati, pikirku waktu itu. Cepat-cepat karena napsu, kupelorotkan saja celana pendek serta CDku. Kaos masih kupakai. Lalu kuambil posisi badanku di atas Bi Tati yang masih pakai daster cuma CDnya saja yang sudah lepas.
Dengan satu tangan, kudekatkan tongkolku ke mekinya Bi Tati. Kugosok-gosokan di bibir luar meki dan bulu jembinya. Seer, seer, asik deh. Terus, kucoba masukkan tongkolku ke dalam mekinya. Duh, susah banget. Lalu kubasahi tongkolku dengan ludah yang banyak. Kucoba lagi naik di atas Bi Tati seperti orang mau push-up. Pelan-pelan dengan satu tangan kumasukkan tongkolku. Bless! Masuk kepala tongkolku yang berkilat dan licin. Pelan-pelan kusodokkan lagi dibantu dengan tanganku. Bless! Makin dalam. Rasanya hangat gitu. Bi Tati masih pulas, malah keluar liur dari bibirnya.
Perlahan dengan napas memburu, kumaju-mundurkan tongkolku. Ugh! Rasanya hangat dan agak geli-geli gitu. Ada kali sekitar sepuluh menit aku maju-mundurkan tongkolku. Keringat dingin makin deras menetes dari badanku. Jantungku makin berdegup kencang. Daging lembut yang hangat dan licin karena basah ludahku terasa membelai-belai tongkolku. Sampai tiba-tiba terasa terasa pejuku mau keluar. Aku coba tahan tapi tak kuasa. Buru-buru kucabut tongkolku. Aku kocok sedikit, dan peju pun muncrat di permadani. Crut! Crut!
Setelah itu yang aku ingat saat itu adalah rasa bersalah yang timbul. Dengan napas yang masih terengah-engah karena dadaku berguncang keras, buru-buru kubersihkan peju yang berceceran di permadani. Secepat kilat kupakaikan CDnya Bi Tati lagi sambil kurapihkan dasternya. Lalu aku berlari ke kamar mandi yang ada di samping kamarku. Setelah itu aku masuk kamarku dan kubiarkan TV menyala dengan Bi Tati yang masih tertidur pulas di depannya. Aku tertidur pulas sampai pagi.
Paginya Bi Tati sudah masak sarapan pagi buatku. Seperti nggak ada apa-apa dan biasa aja. Kejadian itu cuma sekali sampai Bi Tati pulang kampung – saat aku SMA – untuk dikawinkan dengan orang sekampungnya. Lebih dari itu, aku nggak berani karena takut Bi Tati bilang ke orangtuaku....
Selasa, 17 Desember 2019
Aku Perkosa Pembantu Yang Montok Dan Bahenol Itu
Tags
# HARD SEX
About Yunita Puspita
HARD SEX
Label:
HARD SEX
Langganan:
Posting Komentar (Atom)












Tidak ada komentar:
Posting Komentar